5 Model Peradaban Dunia Baru - Rumah Perubahan | Rumah Perubahan

5 Model Peradaban Dunia Baru

5 Model Peradaban Dunia Baru

Peradaban yang sudah kita masuki ini dapat dikatakan sebagai peradaban dunia baru. Bagaimana bisa? Bisa kita lihat dari perkembangan teknologi yang memengaruhi kerja dan produktivitas manusia. Seperti yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali, disruption sebagai era baru memiliki karakteristik yang sebenarnya bisa dengan mudah kita kenali.

Lalu, seperti apakah model dari dunia baru ini?

1. Dari Time Series Menjadi Real Time

Apabila Anda pernah belajar statistik, maka Anda familiar dengan istilah “time series” atau deret berkala. Dalam time series, Anda akan memprediksi masa depan dengan menginterpolasi data-data dari masa lalu. Statistik dengan time series memang akan menghasilkan perhitungan yang benar, namun sudah ketinggalan jika diterapkan pada masa depan. Mengapa? Karena menggunakan data dari masa lalu yang sudah lewat.

Berbeda dengan real time yang bisa menghasilkan indikator terkini (current indicator). Sebab, data hari ini, pada saat detik ini juga sudah bisa diolah untuk memprediksi masa depan. Hasilnya bisa dijadikan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Diperkuat pula oleh teknologi analisis big data.

2. Dari Owning menjadi Sharing

Jika pada era sebelumnya, dalam berbisnis Anda harus memiliki semuanya. Baik itu modal dalam bentuk uang ataupun barang produksi (mesin, kendaraan, tenaga kerja, dan lain-lain). Tanpa itu semua, maka Anda tidak bisa menjalankan bisnis. Anda dianggap tidak memiliki aset.

Namun, ketika sudah masuk ke dalam dunia baru, yang dahulu harus memiliki kini sudah tidak perlu. Dengan sharing, Anda bisa saling berkolaborasi, memanfaatkan aset-aset konsumsi yang memiliki idle time yang bisa dimaksimalkan. Anda bisa berbagi peran dengan orang lain alias tidak harus Anda memiliki semua bentuk aset untuk dapat menjalankan bisnis.

3. On Demand Economy

Karena teknologi sudah semakin berkebang, manusia pun menuntut kecepatan dan kesegeraan dalam beraktivitas. Jika pada era sebelumnya disebut sebagai “on lane economy”, maka pada dunia baru disebut dengan “on demand economy”. Ketika Anda menginginkannya, Anda sudah bisa mendapatkannya. Dengan teknologi, jarak menjadi mati. Analisis big data sudah bekerja, memungkinkan permintaan Anda untuk terwujud saat itu juga.

4. Supply-Demand dengan Jejaring

Berkaitan dengan perpindahan dari owning menjadi sharing, kurva supply-demand pun juga berpindah. Dahulu, kurva tersebut bersifat tunggal. Yang mana artinya, bisa jadi hanya satu orang saja yang mampu memenuhi permintaan. Ketika teknologi semakin berkembang, termasuk didalamnya adalah internet, maka penyedianya juga semakin banyak. Kolaborasi melalui sharing economy memunculkan perpindahan kurva yang semula tunggal menjadi berjejaring. Yang tentu saja, membuat permintaan akan lebih cepat diakses.

5. Lawan-Lawan yang Tidak Kelihatan

Teknologi memungkinkan seseorang tidak perlu memiliki gedung perkantoran untuk dapat bekerja dan menjalankan bisnisnya. Mereka bisa berada di mana saja. Baik itu di cafe, di perpustakaan, atau bahkan di rumah. Berkat teknologi pula, jejaring yang mereka ciptakan membuat mereka bisa berkolaborasi dari beragam tempat tanpa terhalang oleh batas. Hal ini bisa Anda lihat pada banyaknya penyedia layanan yang berbasis teknologi seperti on demand service.

Kelima model tersebut sudah Anda lihat dan rasakan sendiri selama ini. Bahkan, Anda pasti pernah menjadi salah satu penggunanya.  Selamat datang di dunia baru. Selamat datang di era disruption.

(disadur dari buku Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber karya Prof. Rhenald Kasali).

Masukkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>