3 Kesalahan dalam Mobilisasi - Rumah Perubahan | Rumah Perubahan

3 Kesalahan dalam Mobilisasi

3 Kesalahan dalam Mobilisasi

Zeynep Tufecki, seorang jurnalis dan akademisi dari Turki menceritakan tentang pengalamannya mempelajari social movement. Dari TED talk-nya, Tufekci menjelaskan bahwa zaman sekarang ada banyak social movement yang bersifat online. Tentu hal tersebut didukung dengan kehadiran teknologi bernama internet dan beberapa media sosial yang turut andil dalam kemudahan membuat gerakan (mobilisasi).

Sayangnya, teknologi juga bisa melemahkan online social movement yang kita buat. Mengapa bisa begitu?

Hanya Sekadar Digagas

Pengalaman Tufecki meliput salah satu aksi protes di Turki menunjukkan bahwa ketika media lokal tidak menayangkan berita tersebut, unggahan salah satu warga di Twitter berhasil menarik perhatian internasional. Media mulai mencari tahu apa yang tengah terjadi di Turki dan berusaha menyebarkan informasinya ke seluruh penjuru dunia. Di sisi lain, warga di Turki pergi ke pusat keramaian, memotret kejadian, dan posting.

Apakah bisa sekadar begitu saja? Tidak. Meskipun dimulai secara online, bukan berarti pengelolaannya juga 100% online saja. Agar mobilisasi dapat berdampak, ia tidak bisa hanya digagas saja. Ia perlu untuk dikelola. Unggahan yang hanya sekadar ikut meramaikan tidak bisa memobilisasi suatu gerakan. Ia akan mudah dilupakan orang.

Teknologi Sebagai Jalan Pintas

Ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan, merencanakan pergerakan butuh startegi terentu. Misalnya saja di Alabama tahun 1955. Pejuang hak sipil (civil rights) harus melakukan pertemuan yang sembunyi-sembunyi untuk mengatur taktik. Mereka memastikan bahwa pertemuan juga berlangsung secara rutin agar semua yang terlibat tidak mendapatkan arahan yang keliru.

Kini, perjanjian dan pertemuan rutin tersebut bisa dilakukan dengan bantuan internet. Mengabarkan via Facebook atau Twitter dan memanfaatkan aplikasi perpesanan (messenger application) untuk saling berkoordinasi. Namun sayangnya, teknologi hanya dianggap sebagai jalan pintas saja. Kegiatan seperti bertatap muka dianggap tidak lagi terlalu penting. Padahal, dengan berkumpul bersama akan ada ide-ide kolektif, solusi-solusi kolektif yang bisa memunculkan inovasi dan membuat mobilisasi lebih berdampak.

Tidak Merekatkan Sesama Pendukung

Selain fenomena bahwa teknologi hanya digunakan sebagai jalan pintas saja, beberapa penggagas gerakan tidak merekatkan sesama pendukung. Mereka yang telah ikut menyuarakan dukungan secara online (baik dengan Twit atau foto-foto) juga perlu dirangkul.

Maka, beberapa mobilisasi online yang berhasil biasanya memiliki koordinator untuk para pendukungnya. Seringkali disebut sebagai community manager. Merekalah yang bertugas untuk menjaga agar semangat mobilisasi terus hidup hingga tujuan bisa tercapai. Mereka mengadakan pertemuan, mengumpulkan opini-opini dan mengembangkannya. Tujuannya, agar mobilisasi yang sudah digagas berhasil.

Tiga kesalahan di atas jangan sampai Anda lakukan. Seperti yang dikatakan oleh Tufecki, “online movement is easy to organize, but hard to win.” Teknologi bisa mempercepat mobilisasi Anda, tapi jangan sampai teknologi jugalah yang memperlemah gerakan itu.

Hestia Istiviani Badges

Masukkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.