Piramida Maslow dan Hubungan dengan Human Capital - Rumah Perubahan | Rumah Perubahan

Piramida Maslow dan Hubungan dengan Human Capital

Piramida Maslow dan Hubungan dengan Human Capital

Sebagian besar dari Anda pasti sudah sangat awam dengan Piramida Maslow atau Maslow’s Hierarchy of Needs. Dari yang paling bawah ialah pemenuhan kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan, hingga yang paling puncak adalah aktualisasi diri. Piramida Maslow tampaknya sekadar sebagai media untuk refleksi pribadi. Padahal, Piramida Maslow juga bisa Anda gunakan untuk meningkatkan engagement antara perusahaan dengan human capital Anda.

Menerapkan Piramida Maslow pada hubungan antara perusahaan dengan human capital bisa menjadi sebuah aplikasi yang menarik di dalam perusahaan Anda. Ambil kata, para human capital yang ada di perusahaan adalah mereka yang berusaha survive. Dengan kata lain, mereka bekerja untuk mendapatkan uang. Naik satu tingkat di atas, adalah posisi mencari keamanan (safety and security). Yakni posisi dimana human capital bekerja untuk mencari uang dan juga perasaan aman karena memiliki pekerjaan.

sumber: Engagement Multiplier

Lalu, bagaimanakah caranya agar human capital yang berada pada dua posisi terbawah dari Piramida Maslow naik menjadi posisi ke-3 (positive relationship) hingga posisi paling atas (self-actualization)?

Menumbuhkan Rasa Belonging

Alih-alih membuat human capital membutuhkan perusahaan, lebih baik jika Anda sebagai team leader di perusahaan melakukan hal yang sebaliknya. Perusahaan “merawat” talenta seperti yang sudah dimiliki. Anda bisa memulainya dengan banyak melibatkan pada penugasan-penugasan yang Anda yakin bahwa human capital tersebut memang mampu untuk menuntaskannya dengan baik. Pendelegasian yang tepat akan berbuah kepercayaan. Human capital memiliki rasa trust dan belonging karena telah diberi tanggung jawab yang sesuai dengan kapabilitasnya. Mereka pun nantinya bisa menantang diri untuk mendapatkan tugas yang lebih sulit. Di situ, human capital merasa bahwa dirinya sudah diajak menjadi bagian dari sesuatu yang “besar” atau “penting” dalam perusahaan.

Berikan Apresiasi

Ketika human capital mulai memiliki engagement yang lebih dekat dengan perusahaan, maka langkah selanjutnya adalah memberikan apresiasi. Tugas-tugas yang dapat diselesaikan dengan baik, tepat waktu, bahkan melebihi ekspektasi yang sudah ditargetkan membuktikan kalau human capital sudah  punya kepercayaan terhadap perusahaan. Dengan mengimbanginya melalui apresiasi, human capital akan memiliki perasaan bahwa dirinya penting (importance). Stimulus yang muncul dari apresiasi bisa saja berupa inovasi dan solusi yang digagas oleh human capital.

Sediakan Room to Grow

Perasaan importance yang sudah melekat dalam pribadi human capital akan membuat mereka ingin berkontribusi lebih. Malah sangat memungkinkan jika human capital tersebut ingin mengeksplorasi hal baru sehingga mereka bisa menginspirasi human capital lainnya. Jika mereka sudah merasa pada posisi itu, perusahaan sebaiknya menyediakan room to grow. Misalnya saja dengan memberikan kesempatan bagi human capital untuk melakukan mentoring kepada tim yang baru saja bergabung. Adanya kedekatan seperti itu bisa mempererat engagement antara perusahaan dengan individu. Yang tentu akan berimbas positif pada budaya hingga produktivitas.

(Disadur dari artikel Applying Maslow’s Hierarchy of Needs to Engagement and Growth dan Maslow Hierarchy of Needs Applied to Employee Engagement)

  1. Sangat bermanfaat. Terimakasih uraiannya prof.

    Balas

Masukkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.