4 Strategi Menghadapi Ekosistem Digital - Rumah Perubahan | Rumah Perubahan

4 Strategi Menghadapi Ekosistem Digital

4 Strategi Menghadapi Ekosistem Digital

Ketika hadir dengan terminologi “ekosistem digital”, banyak orang-orang penting di sebuah perusahaan yang kebingungan. Bagaimana mereka bisa tetap berkompetisi. Apakah sekadar meningkatkan pelayanan atau banting stir dengn mengubah lanskap bisnisnya. Itu semua menjadi pertanyaan di setiap benak mereka. Mengingat bahwa ternyata para orkestrator eksositem melakukan pendekatan Turnstile untuk bisa meleverasi bisnisnya (baca juga artikel Ekosistem Digital Mengubah Strategi Bisnis, Benarkah?)

Pendekatan Turnstile ialah dimana sebuah perusahaan alih-alih berlomba menguasai aset, mereka malah membuka banyak akses agar semua orang bisa “bergabung” ke dalam ekosistem. Mereka juga berperan sebagai penghubung antar satu sama lain. Antara produsen dan konsumen, misalnya. Namun, bagi para incumbent, mengubah pendekatan yang awalnya berupa “Deep Moats” menjadi Turnstile tidaklah mudah. Tentu saja akan ada penyesuaian di berbagai aspek agar strategi bisnis sesuai dengan perkembangan zaman.

Menurut Julian Birkinshaw, ada 4 startegi yang bisa dilakukan oleh incumbent untuk beradaptasi dengan pendekatan Turnstile demi tetap relevan di ekosistem digital.

Buka Kesempatan Setiap Saat

Mengingat bahwa semuanya saling berlomba-lomba menjadi ekosistem digital yang paling diminati, maka sudah wajib kiranya menjaga agar pengguna tetap menggunakan layanan kita. Baik itu pengguna lama ataupun menarik pengguna baru. Misalnya saja dengan membuat pengguna merasa bahwa mereka mendapatkan value dari penggunaan produk dan layanan kita. Ambil contoh yang dilakukan oleh WeChat. Selama beberapa tahun pertama, WeChat menarik pengguna dengan beragam promosi produk. Ketika penggunanya sudah semakin besar, WeChat tidak membuat pengguna tersebut sebagai obyek iklan. Hingga kini, WeChat membatasi setiap pengguna hanya melihat 2 iklan dalam sehari. WeChat pun mendapatkan keuntungan bukan dari iklan melainkan dari kerjasama dengan pihak ketiga yang bisa meningkatkan user experience penggunanya. Kenyamanan pengguna menjadi pertimbangan WeChat dalam menjaga Turnstile-nya.

Beri Alasan Mengapa Mereka Harus Tinggal

Menjadi eksositem digital tidaklah sekadar eksis. Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, perusahaan harus mampu memberikan value terhadap penggunanya dengan beragam cara. Mari kita lihat WeWork, sebuah perusahaan (bisa dikatakan demikian) yang menyewakan space atau ruang untuk bekerja. Mereka bisa saja menggunakan kontrak yang kaku dan formil untuk “mengikat” para penyewanya. Tapi hal itu tidak dilakukan. WeWork malah bersifat fleksibel. Bahkan WeWork berusaha agar posisinya sejajar dengan penyewa. WeWork rajin menggelar acara-acara berjejaring yang dilihat sebagai penyewa sebagai value yang mereka dapatkan. Para penyewa merasa bahwa mereka tidak cuma menyewa tempat tetapi juga mendapatkan relasi hingga ilmu baru.

Jangan “Bunuh” Rekan Anda

Boleh saja menjadi sebuah ekosistem digital yang menghubungkan banyak pihak, tetapi itu bukan berarti kita “mencaplok” lini bisnis rekanan kita. Mari kita lihat perbandingan antara Amazon dengan Alibaba. Ketika Amazon sudah semakin besar, ia malah membuat sebuah produk yang juga dijual oleh rekanannya. Dengan kata lain, Amazon menjadi kompetitor rekanannya sendiri. Berbeda dengan Alibaba. Mengingat mereka memiliki semangat, “We operate an ecosystem where all participants have an opportunity to prosper”, Alibaba meningkatkan kualitas ekosistemnya daripada memiliki produk sendiri. Alibaba tidak mau “membunuh” rekanannya sendiri karena dari situlah Alibaba bisa terus hidup.

Terus Bergerak

Satu keuntungan besar menjadi orkestrator ekosistem adalah bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi yang berlimpah. Informasi tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menjaga agar Turnstile-nya terus bergerak. Mereka bisa melihat apa yang sedang menjadi konsumsi pasar di luar sana dan merangkai produk atau layanan yang sesuai dengan hal itu. Ya, para orkestrator ini terus berusaha agar produknya terus berkembang dan bisa menyasar pasar yang jauh lebih luas lagi. Tidak heran jika mereka seakan tanpa henti memiliki banyak inovasi. Baik itu yang akhirnya bisa bertahan lama di pasar ataupun hanya sebatas ujicoba. Sebab, dari situlah para orkestrator ekosistem bisa mengembangkan sayapnya.

(Disadur dari Ecosystem Business are Changing the Rules of Strategy oleh Julian Birkinshaw, HBR).

Share on Pinterest

Masukkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.